Minggu, 20 Januari 2013

KONSEP DIRI


 Konsep Diri
A. KONSEP DIRI ( Self-Concept )

Konsep diri merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian.Konsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian.Read more: Pengertian Konsep Diri | belajarpsikologi.comKonsep diri (self consept) merupakan suatu bagian yang penting dalam setiap pembicaraan tentang kepribadian manusia. Konsep diri merupakan sifat yang unik pada manusia, sehingga dapat digunakan untuk membedakan manusia dari makhluk hidup lainnya. Para ahli psikologi kepribadian berusaha menjelaskan sifat dan fungsi dari konsep diri, sehingga terdapat beberapa pengertian.Read more: Pengertian Konsep Diri | belajarpsikologi.com
Sebagai manusia, kita tidak hanya melakukan persepsi terhadap orang lain, tetapi , juga kita mempersepsi diri kita sendiri. Saat mempersepsi diri sendiri itu, diri kita menjadi subjek dan objek persepsi sekaligus. Menurut Charles Horton Cooley, kita melakukannya dengan membayangkan diri kita sebagai orang lain. Oleh Cooley, gejala ini dinamakannya looking-glass self (diri cermin), seakan-akan kita menaruh cermin didepan kita. Mula-mula, kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita. Kemudian, kita akan mengalami perasaan tertentu mengenai diri kita.B. SUMBER-SUMBER KONSEP DIRI1. Self-EsteemSelf-esteem (harga diri) adalah penilaian, baik positif atau negative, individu terhadap diri sendiri. Tingginya self-esteem merujuk pada tingginya estimasi individu atas nilai, kemampuan, dan kepercayaan yang dimilikinya. Sedangakan self-esteem yang rendah melibatkan penilaian yang buruk akan pengalaman masa lalu dan pengharapan yang rendah bagi pencapaian masa depan.2. Social Evaluation (Penilaian Sosial)Proses evaluasi social ini termasuk di dalamnya Reflected appraisal (pantulan penilaian) atau direct feedback (umpan balik langsung)a. Reflected appraisalb. Direct feedbackC. TEORI-TEORI KONSEP DIRI1. Social Comparison (Pembandingan social)Social comparison theory ini dibangun atas empat prinsip dasar, yakni berikut ini:a. Setiap orang memiliki keyakinan tertentu.b. Penting bagi keyakinan kita untuk menjadi benar.c. Beberapa keyakinan lebih sulit untuk dibuktikan dibanding yang lainnya. Hal-hal yang tidak bisa dibuktikan secara objektif mungkin dibuktikan secara subjektif melalui pembuktian bersama (membuat orang lain setuju).d. Ketika anggota dari kelompok rujukan (refrence group) saling tidak setuju tentang suatu hal, mereka akan berkomunikasi hingga konflik tersebut terselesaikan.Menurut social comparison theory, ada kecenderungan-kecenderungan dalam melakukan perbandingan social, yaitu:a. Similarity hypothesis (hipotesis kesamaan)b. Related attributes hypothesis (hipotesis atribut yang berhubungan)c. Downward comparisons (pembandingan ke bawah)d. Consequences of social comparisons (Konsekuensi dari perbandingan social)2. Persepsi diri (Self-Perception)Menurut Daryl Benn, ketika kita menilai pendapat sendiri maka kita akan mengambil perilaku kita sebagai petunjuk (clues), daripada menganalisis diri kita secara mendalam. Proses self-perception melibatkan pembelajaran tentang diri sendiri dan menempatkan diri pada hal yang sama ketika kita mencoba memahami orang lain.
Menurut teori persepsi diri (self-perception) ini terdapat dua macam cara bagaimana menempatkan diri pada hal yang sama ketika kita mencoba memahami orang lain, yaitu:a. Self-Attribution (Atribusi Diri)b. Overjustification (Pembenaran yang Berlebih)D. HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KOMUNIKASIKonsep diri merupakan factor yang sangat menentukan dalam komunikasi interpersonal karena setiap orang bertingkah laku sedapat mungkin sesuai dengan konsep dirinya (Rakhmat,2003).Kecendurngana untuk bartingkah laku sesuai konsep diri oleh Jalaludin Rahmat disebut ”nubuat yang dinuhi sendiri”, artinya Anda berprilaku sesuai dengan konsep diri Anda. Anda berusaha hidup sesuai dengan label yang anda lekatkan pada diri Anda. Misalnya, apabila Anda merasa memiliki kamampuan untuk mengatasi persoalan yang menimpa Anda. Sebaliknya, apabila Anda merasa bodoh, Anda pun akan berprilaku bodoh.Brook dan Emmert (dalam Rakhmat, 2003) menyebutkan ada lima ciri orang yang memiliki konsep diri positif :1. Ia yakin akan kemampuannya mengatasi masalah.2. Ia merasa setara dengan orang lain.3. Ia menerima pujia tanpa rasa malu.4. Ia menyadari bahwa setiap orang mempunyai berbagai perasaan, keinginan, dan perilaku yang tidak seluruhnya disetujui masyarakat.5. Ia mampu memperbaiki dirinya karena mengungkapkan kepribadian yang tidak disenanginya dan berusaha mengubahnya.Hamachek (dalam Rakhmat,2003) menyebutkan ada sebelas karakteristik orang yang memiliki konsep diri positif:1. Ia meyakini betul-betul nilai-nilai dan prinsip-prinsip tertentu serta bersedia mempertahankannya, walupun menghadapi pendapat kelompok yang kuat. Namun, ia juga merasa dirinya cukup tangguh untuk mengubah prinsip-prinsip itu apabila pengalaman dan bukti-bukti baru menunjukan bahwa ia salah.2. Ia mampu bertindak berdasarkan penilaian yang baik tanpa merasa bersalah yang berlebih-lebihan atau menyesali tindakannya jika orang lain tidak menyetujui tindakannya.3. Ia tidak menghabiskan waktu yang tidak perlu untuk mencemaskan apa yang akan terjadi besok, apa yang telah terjadi di waktu lalu, dan apa yang telah terjadi di waktu yang lalu,dan apa yang sedang terjadi di waktu sekarang4. Ia memiliki keyakinan pada kemampuan untuk mengatasi persoalan. Bahkan ketika ia menghadapi kegagalan atau kemunduran.5. Ia merasa sama dengan orang lain, sebagai manusia tidak tinggi atau rendah, walaupun terdapat perbedaan dalam kemampuan tertentu , latar belakang keluarga, atu sikap orang lain terhadapnya6. Ia sanggup menerima dirinya sebagai orang yang penting dan bernilai bagi orang lain, paling tidak bagi orang-orang yang ia pilih sebagai sahabatnya7. Ia dapat menerima pujian tanpa berpura-pura rendah hati dan menerima penghargaan tanpa rasa bersalah.8. Ia cenderung menolak usaha orang lain untuk mendominasinya.9. Ia sanggup mengaku kepada orang lain bahwa ia mampu merasakan berbagai dorongan dan keinginan, dari perasaan marah sampai cinta, dari perasaan sedih sampai bahagia, dari perasaan kecewa yang mendalam sampai kepuasan yang mendalam pula.10. Ia mampu menikmati dirinya secara utuh dalam berbagai kegiatan yang meliputi pekerjaan, permainan, ungkapan diri yang kreatif, persahabatan atau sekedar mengisi waktu.11. Ia peka pada kebutuhan orang lain, pada kebiasaan social yang telah diterima, dan terutama sekali pada gagasan bahwa ia tidak bisa bersenang-senang dengan mengorbankan orang lain.Ciri-ciri orang yang memiliki konsep diri negative:
  1. 1. Peka terhadap kritik
  1. 2. Sangat responsive dan antusias terhadap pujian
  1. 3. Hiperkrtis terhadap orang lain
  1. 4. Cenderung merasa tidak disenangi orang lain.


KOGNISI SOSIAL TENTANG DIRI
A. PENGERTIAN KOGNISI SOSIAL TENTANG DIRI DAN PENGEMBANGAN DIRI
Willim James, seorang bisa menjadi objek pikirannya sendiri. Inilah kognisi social. Penjelasan mengenai social cognition (kognisi social) ini akan memudahkan pemahaman tentang social self.
Self-development kita kebanyakan terbentuk dari interaksi dengan orang-orang terdekat kita dimasa kanak-kanak. Orang-orang ini menjadi panutan (role models) bagi kita dalam bertindak, berpikir, dan merasa tentang diri sendiri. Mereka disebut sebagai significant others, yaitu orang-orang yang memperngaruhi perilaku, pikiran, dan perasaan kita. Konsep significant others ini datang dari George Herbert Mead, yang diartikan sebagai: orang lain yang sangat penting artinya bagi diri seseorang, mula-mula, mereka adalah orang tua, pengasuh, kakak atu kerabat yang tinggal di rumah. Richard Dewey dan .W. J Humber menyebut dengan affevtive others, yaitu orang lain yang dengan mereka kita mempunyai ikatan emosional.
Self-cognition bisa terlihat dari self-awareness (Kesadaran Diri) dan self-schemata (bagan diri).
1. Self-awareness (Kesadaran Diri)
Self-awareness (kesadaran diri) merupakan perhatian sesorang yang terfokus pada diri sendiri, perasaannya, nilai, maksud, dan/atau evaluasi dari orang lain. Self-awareness membantu kita untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan yang ada pada diri kita, menyadari bahwa tingkah laku kita dikendalikan oleh pikiran kita.
Dalam Johari Window dijelaskan bahwa “diri” manusia terbagi atas empat bagian atu sel (quadran, jendela,bagian). Tiap-tiap sel itu mewakili bagian “diri” (self) yang berbeda-beda.



*Kuadran 1 (Open)* ini buat perilaku, perasaan, dan motivasi yang
diketahui oleh diri kita sendiri dan orang lain. Karena sama-sama mengetahui maka namanya open.
*Kuadran 2 (Blind)* ini buat perilaku, perasaan, dan motivasi yang
diketahui oleh orang lain, tetapi tidak diketahui oleh diri kita sendiri. Karena orang lain tau, namun kita sendiri tidak menyadari, maka namanya blind. Karena kita seperti buta dengan apa yang kita lakukan dan sifat apa yg ada di diri kita.
*Kuadran 3 (Hidden)*ini buat perilaku, perasaan, dan motivasi yang
diketahui oleh diri kita sendiri, tetapi tidak diketahui oleh orang lain. Karena hanay kita yang tau, rasanya seperti kita merahasiakannya untuk diri kita sendiri.
*Kuadran 4 (Unknown)* ini buat perilaku, perasaan, dan motivasi yang
tidak diketahui, baik oleh diri kita sendiri ataupun oleh orang lain. Jelas karena odiri sendiri tidak tau, orang lain pun tidak tau, maka cocok lah jika ini disebut unknown atau misteri.
De Vito menyebutkan lima hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan self-awareness:
1. Bertanya tentang diri kepada diri sendiri. Self-talk (berbicara dengan diri sendiri), melakukan monolog dengan diri sendiri adalah salah satu cara mengetahui tentang diri kita pada dan giliranya meningkatkan kesadaran diri.
2. Mendengarkan orang lain. Mendapat feedback dari orang lain dalam komunikasi interpersonal adalah hal yang membuat kita mendapatkan self-knowledge (pengetahuan tentang diri). Ini akan meningkatkan self-awareness kta.
3. Secara aktif mencari informasi tentang diri sendiri. Tindakan ini akan memperkecil wilayah blind-self kita sekaligus meningkatkan self-awareness kita.
4. Melihat diri kita dari sisi yang lain. Setiap orang memiliki pandangan sendiri tentang kita. Mencoba melihat dari sudut pandang orang-orang lain mengenai kita akan membantu kita untuk menambah kesadaran tentang diri kita sendiri.
5. Meningkatkan open-self. Dengan meluaskan wilayah terbuka pada diri kita berarti kita mengurangi wilayah hidden-self. Ini berarti juga kita membuka diri (melakukan self-diclosure) kepada orang lain. Membuka diri akan memberikan pengetahuan tentang diri dan meningkatkan kesadaran diri.
2. Self-Schemata (Skema Diri)
Skemata merupakan kategorisasi gagasan mengenai stimuli yang dikembangkan oleh diri sendiri. Oleh karena itu, self-schemata adalah seperangkat susunan self-generalizations (hal-hal yang umum) dari diri seseorang, yang didapat dari penilaian yang dilakukan sendiri atau orang lain. Self-schemata mempengaruhi bagaimana Anda memperhatikan atau mengingat informasi dan kesempatan tentang diri sendiri.
B. SELF MOTIVATION (MOTIVASI DIRI)
Menurut Weber, motivasi diri dapat dilihat dalam tiga hal: self-consistenct, self-enchacement, dan self-control.
1. Self-Consistency (konsistensi Diri)
Ketika self-concept seseorang menemui tantangan maka orang itu biasanya akan menguatkan penilaian dirinya sendiri, daripada memikirkan kembali pertentangan yang terjadi.
Bentuk penting dari self-motivation melibatkan rasionalitas kita tentang perilaku kita. Meskipun setiap orang mampu berlogika, tetapi tidak setiap perilaku mempunyai logika
yang baik sebelum dilakukan. Ketika dilakukan, perilaku tersebut baru dirasionalkan. Mendukung sebuah perilaku setelah perilaku tersebut dilakukan melibatkan proses self-justification. Self-justification adalah pendorong yang kuat bagi perubahan sikap. Hal ini terjadi pada beberapa kasus cognitive dissonance, sebuah pengalaman ketegangan ketika elemen-elemen kognisi bertentangan.
Leon Festinger mengidentifikasikan dua keadaan yang menimbulkan kebutuhan akan pembenaran diri ini, yaitu insufficient justification, dan decision making (pembuatan keputusan).
2. Self-Enchancement (Peningkatan Diri)
Self-motivation yang besar adalah perlindungan dan pertahanan akan self-esteem (harga diri). Dikatakan bahwa banyak orang yang menderita karena self-esteem yang rendah. Teori kepribadian humanistic (humanistic personality theories) menyebutkan bahayanya evaluasi negative atas diri seseorang. Beberapa kecenderunagan self-enchacement terjadi melalui proses yang telah disebutkan, seperti donward comparisons, meyakinkan diri atas kelebihannya dari orang lain atau self-justifiction, untuk merasionalisasikan perilaku yang bertentangan dengan diri.
Self-motivation yang besar adalah perlindungan dan pertahanan akan self-esteem (harga diri). Dikatakan bahwa banyak orang yang menderita karena self-esteem yang rendah. Teori kepribadian humanistic (humanistic personality theories) menyebutkan bahayanya evaluasi negative atas diri seseorang. Beberapa kecenderunagan self-enchacement terjadi melalui proses yang telah disebutkan, seperti donward comparisons, meyakinkan diri atas kelebihannya dari orang lain atau self-justifiction, untuk merasionalisasikan perilaku yang bertentangan dengan diri.
Diluar itu ada bentuk-bentuk lain self-enchacement, yaitu self-serving processes dan self-presentation processes.
a. Self-serving processes
Proses ini umumnya melibatkan tiga bentuk kognisi social yang diaplikasikan pada perlindungan terhadap self-esteem, yaitu:
1) Egocentric Bias (Bias Egosentris)
Egosentris atau pemusatan diri (self-conteredness) bisa membuat pengolahan dan pengingatan informasi menjadi bias. Ketika terpengaruh oleh bias egosentris, seseorang mengingat dengan lebih baik informasi yang relevan baginya. Salah satu bentuk bias egosentris dalam suatu hubungan adalah mnyatakan kontribusi dirinya lebih banyak dibanding yang lain.
2) False Comparison Effects (Efek Perbandingan Palsu)
Seperti telah di jelaskan, social comparison penting bagi perkembangan self-concept seseorang. Social comparison menimbulkan efek bagi penilalian dari perilaku positif atau negative seseorang.
3) Beneffectance
Proses self-serving yang lain terjadi ketika mengambil kesimpulan tentang diri dari tindakan yang kita lakukan. Kecenderungan untuk mengedepankan hal-hal baik dari kesuksesan kita dan menjauhkan kegagalan kita disebut dengan beneffectance. Benefectance adalah bias dalam atribusi.
b. Self-Presentation (Penyajian Diri)
Banyak kognisi diri dimotivasi oleh perhatian terhadap penyajian diri (self-presentation). Terdapat tiga proses self-presentation:
1) Impression management
Dalam berkomunikasi atau berinteraksi dengan orang lain, kita bukan hanya menyampaikan atau menerima pesan, tetapi juga melakukan pengolahan kesan (impression management). Konsep ini datang dari sosiolog Erving Goffman. Ia mengatakan bahwa seseorang “tampil” di hadapan orang lain untuk mendapatkan kesan tertentu. Manusia secara sengaja menampilkan diri (self-presentation) seperti yang ia kehendaki. Peralatan lengkap yang ia gunakan untuk menampilkan diri ini disebut front. Front terdiri dari panggung (setting), penampilan (appearance), dan gaya bertingkah laku (manner).
2) Social accounting
social accounting untuk meyakinkan mereka. Salah satu bentuk social accounting adalah mimic muka, termasuk terlihat malu ketika kita terlibat dalam kesalahan atau tersenyum ketika melakukan kontak mata dengan orang lain. Bentuk lainnya adalah membuat excuses (alasan).
3) Self-Monitoring (Pengawasan Diri)
Self-monitoring yaitu pengawasan terhadap tindakan kita guna mencapai tujuan tertentu. Melalui pengawasan ini kita melakukan penyesuaian-penyesuaian atas tindakan-tindakan yang dilakukan atau hendak dilakukan. Ahli psikologi social menyebutkan dimensi ini dapat menyebabkan orang terlihat berbeda . Pada suatu keadaan, seseorang akan mempunyai self-monitoring yang tinggi terhadap situasi sosialnya dan berperilaku selayaknya. Ini disebut dengan high self-monitoring. High self-monitoring memberi perhatian lebih pada orang lain, melihat dan menaggapi orang lain untuk menyenangkan mereka. Mereka mengatakan hal-hal yang mereka pikir orang lain mau dengar atau memberi pendapat untuk menyenangkan orang lain. Sebaliknya, orang dengan low self-monitoring berperilaku konsisten pada situasi apapun, yaitu dengan mempertahankan nilai-nilai mereka, dan mengarahkan perilaku dengna prinsip yang dimiliki, bukna karena alasan pragmatis. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar